Home / Islami / Waktu Mustajab Berdzikir Agar Rezeki Mengalir Tanpa Henti

Waktu Mustajab Berdzikir Agar Rezeki Mengalir Tanpa Henti

Banyak orang ingin rezekinya “mengalir tanpa henti”. Dalam perspektif Islam, kalimat itu paling aman dimaknai sebagai: Allah memberi kelapangan yang berkelanjutan, dicukupkan kebutuhannya, dimudahkan urusannya, dan diberi keberkahan pada harta serta waktu. Sebab bisa saja penghasilan besar, tetapi habis untuk hal yang tidak bermanfaat; atau harta banyak, namun hati gelisah. Karena itu, pembahasan waktu mustajab berdzikir sebaiknya diarahkan pada dua hal: pertama, menguatkan hubungan dengan Allah sebagai Pemberi rezeki; kedua, membangun kebiasaan spiritual yang menuntun ikhtiar agar tetap halal, jujur, dan produktif.

Dzikir sendiri bukan hanya bacaan lisan. Ia mencakup ingat kepada Allah dengan lisan, hati, dan amal. Namun, lisan yang rutin berdzikir sering menjadi pintu bagi hati untuk lebih tenang dan fokus, sehingga keputusan kerja, bisnis, dan pengelolaan uang menjadi lebih sehat. Berikut ini beberapa waktu yang dikenal dalam ajaran Islam sebagai waktu utama untuk dzikir dan doa—yang insyaAllah menjadi sebab dibukanya pintu rezeki dan keberkahan.

1) Setelah shalat fardhu: momen paling konsisten

Waktu paling “aman” dan paling bisa dijaga adalah selesai shalat wajib. Nabi SAW mencontohkan dzikir setelah shalat seperti tasbih, tahmid, takbir, serta doa-doa pendek lainnya. Mengapa ini efektif? Karena selesai shalat, hati baru saja “dibersihkan” dari distraksi. Kita baru menyatakan tunduk, membaca ayat, rukuk dan sujud. Dalam kondisi itu, dzikir lebih mudah meresap.

Kalau Anda ingin rezeki mengalir dalam makna berkah dan mudah urusan, jadikan dzikir ba’da shalat sebagai pondasi. Konsistensi lebih penting daripada banyaknya bacaan tetapi hanya sesekali. Banyak orang mengejar “amalan khusus”, namun meninggalkan dzikir yang paling jelas contohnya dan paling mudah dijaga.

Contoh praktik sederhana:

  • Setelah salam: baca istighfar, lalu tasbih 33, tahmid 33, takbir 34.

  • Tutup dengan doa meminta rezeki halal, ilmu bermanfaat, dan amal diterima.

2) Sepertiga malam terakhir: saat hati paling jujur

Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat dianjurkan untuk qiyamul lail, doa, dan istighfar. Banyak orang merasakan perubahan besar dalam hidup ketika menjaga kebiasaan bangun malam, walaupun hanya 1015 menit. Pada jam ini, suasana sunyi membantu kita jujur melihat diri sendiri: kebiasaan boros, kemalasan, dosa yang disembunyikan, dan target hidup yang kabur.

Rezeki sering “seret” bukan karena kurang peluang, tetapi karena ada kebocoran: pengeluaran tidak sadar, kebiasaan menunda, atau dosa yang tidak ditinggalkan. Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang tepat untuk istighfar serius, memohon petunjuk, dan meminta kekuatan untuk berubah. Jika Allah membukakan hidayah dan disiplin, itu sendiri adalah rezeki yang membuat rezeki materi ikut membaik.

Contoh praktik sederhana:

  • Bangun, wudhu, shalat 2 rakaat.

  • Perbanyak istighfar, lalu doa spesifik: minta dimudahkan pekerjaan, dijauhkan dari utang, dan diberi rezeki halal.

3) Waktu sahur: istighfar yang “menarik berkah”

Sahur bukan hanya untuk orang yang puasa. Dalam Al-Qur’an, disebutkan sifat orang bertakwa yang beristighfar di waktu sahur (makna QS. Ali ‘Imran: 17). Sahur memiliki “rasa” spiritual yang khas: badan belum sibuk, pikiran belum penuh notifikasi, dan niat mudah ditata.

Jika Anda ingin rezeki terasa mengalir, latih kebiasaan bangun lebih awal. Banyak pintu rezeki terbuka karena orang memulai hari dengan tertib: rencana jelas, pikiran tenang, dan langkah efisien. Dzikir di waktu sahur sering menjadi pemantik kebiasaan produktif tersebut, sekaligus menghadirkan keberkahan.

Contoh praktik sederhana:

  • Istighfar 50100 kali.

  • Shalawat 50 kali.

  • Doa memohon kecukupan dan dijauhkan dari kefakiran.

4) Pagi hari setelah Subuh: membuka “flow” aktivitas

Pagi adalah waktu pembuka. Banyak ulama menasihati agar jangan langsung “lari” ke dunia setelah Subuh. Luangkan beberapa menit untuk dzikir pagi, membaca Al-Qur’an, dan doa memohon rezeki yang baik. Ada konsep keberkahan waktu pagi (barakah) yang terasa dalam realitas: pekerjaan lebih cepat selesai, fokus lebih tajam, dan energi lebih stabil.

Orang yang menjaga dzikir pagi umumnya lebih kuat menghadapi tantangan kerja. Saat rezeki terasa macet, sering kali yang macet adalah mental: mudah panik, mudah marah, mudah menyerah. Dzikir pagi membantu menata ulang ketenangan sebelum bertemu tekanan hari.

Contoh praktik sederhana:

  • Dzikir pagi (yang ringkas pun boleh).

  • Baca doa: “Ya Allah, aku memohon rezeki yang baik.”

  • Tulis 3 prioritas kerja hari itu agar ikhtiar lebih terarah.

5) Sore hari menjelang Maghrib: saat evaluasi dan perlindungan

Menjelang Maghrib adalah waktu transisi. Energi menurun, banyak orang mulai lelah, dan godaan emosi lebih mudah muncul. Dzikir sore membantu menutup hari dengan perlindungan dan rasa syukur. Ini penting untuk rezeki, karena rezeki bukan hanya “datang”, tetapi juga harus dijaga agar tidak bocor melalui emosi, konflik, dan keputusan impulsif.

Jika Anda pelaku usaha atau pekerja kreatif, sore hari juga waktu bagus untuk evaluasi: apa yang berhasil hari ini, apa yang perlu diperbaiki besok. Dzikir membuat evaluasi terasa ringan, bukan menyalahkan diri, tetapi memperbaiki diri.

Contoh praktik sederhana:

  • Dzikir petang.

  • Istighfar untuk kesalahan hari itu.

  • Doa agar esok diberi kemudahan dan keberkahan.

6) Hari Jumat: memperbanyak dzikir dan shalawat

Jumat adalah sayyidul ayyam, hari yang memiliki keutamaan. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW. Banyak orang merasakan ketenangan berbeda saat menjaga shalawat di hari Jumat, dan ketenangan itu sering berdampak pada rezeki: cara bicara lebih halus, hubungan lebih baik, dan peluang lebih mudah datang.

Rezeki sering terbuka lewat relasi yang sehat—bukan sekadar “networking”, tetapi akhlak yang baik, kejujuran, dan reputasi. Shalawat menguatkan cinta kepada Nabi, yang kemudian mendorong kita meneladani akhlak beliau dalam muamalah.

Contoh praktik sederhana:

  • Target shalawat 100300 kali selama Jumat (dibagi waktu).

  • Sedekah walau kecil.

  • Datang lebih awal untuk shalat Jumat dan perbanyak dzikir.

7) Antara adzan dan iqamah: momen singkat yang sering terlewat

Banyak orang mengisi sela antara adzan dan iqamah dengan mengobrol atau scroll ponsel. Padahal ini momen bagus untuk doa dan dzikir. Waktunya memang singkat, tetapi kualitasnya tinggi karena kita sedang berada dalam suasana ibadah dan menunggu shalat.

Jika dilakukan konsisten, sela-sela pendek seperti ini akan mengumpulkan dampak besar. Rezeki yang “mengalir” sering lahir dari kebiasaan kecil yang dijaga terus-menerus.

Contoh praktik sederhana:

  • Istighfar pelan.

  • Doa khusus kebutuhan Anda: proyek lancar, utang lunas, usaha diberkahi.

8) Saat sujud: posisi paling dekat seorang hamba

Dalam sujud, seorang hamba berada pada posisi paling dekat kepada Allah. Ini waktu yang kuat untuk berdoa, termasuk memohon rezeki halal dan keberkahan. Banyak orang hanya membaca bacaan wajib sujud, lalu buru-buru bangkit. Padahal, menambah doa singkat saat sujud (tanpa memberatkan diri) adalah amalan yang sangat bernilai.

Yang penting, doa rezeki saat sujud sebaiknya tidak hanya “minta uang”, tetapi juga minta dibimbing pada langkah yang benar: dijauhkan dari riba, ditunjukkan peluang halal, diberi kemampuan mengatur uang, dan diberi rasa cukup.

Contoh praktik sederhana:

  • Setelah tasbih sujud, tambah doa singkat: minta kecukupan dan keberkahan.

  • Jika shalat sunnah, Anda bisa memperpanjang sujud lebih leluasa.

Agar rezeki benar-benar terasa “mengalir”

Waktu mustajab bukan tombol otomatis. Ia adalah pintu yang mengetuk hati agar selaras dengan sebab-sebab rezeki yang Allah tetapkan. Karena itu, dzikir yang paling “membuka rezeki” adalah dzikir yang mengubah perilaku: dari malas menjadi rajin, dari boros menjadi tertib, dari licik menjadi jujur, dari panik menjadi tawakal.

Agar dampaknya terasa, gabungkan tiga hal:

  • Konsistensi: pilih 23 waktu dulu (misalnya ba’da shalat, pagi, dan sahur) lalu jaga minimal 30 hari.

  • Ikhtiar yang halal: perbaiki skill, tingkatkan kualitas layanan/kerja, dan rapikan manajemen keuangan.

  • Bersihkan penghalang berkah: jauhi riba dan penipuan, jaga shalat, tunaikan zakat bila wajib, dan rutin sedekah.

Jika dzikir dilakukan dengan hati yang hadir, disertai usaha yang benar, rezeki akan terasa “mengalir” dalam bentuk yang paling Anda butuhkan: kemudahan, ketenangan, peluang, relasi baik, dan keberkahan pada apa yang Anda miliki—meski nilainya tidak selalu terlihat besar di angka.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *