Dalam Islam, rezeki bukan sekadar uang. Rezeki mencakup kesehatan, ketenangan hati, ilmu yang bermanfaat, keluarga yang harmonis, pekerjaan yang halal, hingga kemudahan dalam urusan. Karena itu, ketika membahas “dzikir pembuka pintu rezeki”, kita tidak sedang mencari mantra cepat kaya, melainkan amalan yang menumbuhkan kedekatan kepada Allah, membersihkan hati, sekaligus menjadi sebab turunnya pertolongan dan keberkahan.
Rasulullah SAW mengajarkan banyak dzikir dan doa yang berkaitan dengan rezeki: memohon kecukupan, meminta keberkahan, berlindung dari kefakiran, serta meminta rizki yang halal dan baik. Di bawah ini adalah 7 dzikir/doa yang diajarkan Nabi SAW atau sangat masyhur dalam Sunnah, yang banyak diamalkan para ulama sebagai sebab dibukanya keberkahan rezeki—dengan catatan, tetap disertai ikhtiar, kejujuran, dan tawakal.
1) Istighfar: “Astaghfirullāh”
Istighfar adalah dzikir paling terkenal yang sering disebut sebagai sebab datangnya kelapangan. Al-Qur’an mengaitkan istighfar dengan turunnya hujan, bertambahnya harta, dan keturunan (lihat makna dalam QS. Nuh: 10–12). Dalam praktik hidup, istighfar berarti mengakui kekurangan, menyesali dosa, lalu memperbaiki arah. Dosa bisa menjadi penghalang rezeki, bukan karena Allah pelit, tetapi karena dosa merusak hati, menutup pintu keberkahan, dan mengacaukan pilihan hidup.
Rasulullah SAW sendiri beristighfar sangat sering dalam sehari, padahal beliau ma’shum. Ini menunjukkan istighfar bukan hanya untuk “orang yang merasa kotor”, melainkan adab seorang hamba yang sadar bahwa semua nikmat datang dari Allah dan setiap kekurangan butuh diperbaiki.
Cara mengamalkan:
-
Ucapkan “Astaghfirullāh” dengan sadar dan menghadirkan penyesalan.
-
Jadikan kebiasaan, misalnya 100 kali pagi dan 100 kali sore, atau sesanggupnya.
-
Sertai dengan taubat nyata: tinggalkan yang haram, perbaiki shalat, lunasi hak orang bila ada.
2) Tahlil: “Lā ilāha illallāh”
Kalimat tauhid adalah inti dzikir. Mengapa terkait rezeki? Karena tahlil meluruskan pusat ketergantungan. Banyak orang tersiksa bukan karena kurang uang, tapi karena hati bergantung pada manusia, klien, atasan, atau angka di rekening. Ketika tahlil dihidupkan, kita mengakui tidak ada sesembahan dan tempat bergantung yang benar selain Allah.
Dalam banyak riwayat, “Lā ilāha illallāh” disebut sebagai dzikir yang utama. Ia memurnikan niat, menenangkan hati, dan menguatkan tawakal. Orang yang tawakalnya kuat biasanya lebih jernih mengambil keputusan, lebih sabar saat rezeki tertahan, dan lebih bersih saat rezeki dilapangkan—tiga hal yang sangat memengaruhi kualitas rezeki.
Cara mengamalkan:
-
Perbanyak tahlil di sela aktivitas: di perjalanan, setelah shalat, atau saat menunggu.
-
Latih hati untuk mengembalikan kekhawatiran rezeki kepada Allah, bukan kepada makhluk.
3) Tasbih–Tahmid–Takbir: “Subhānallāh, Alhamdulillāh, Allāhu akbar”
Tiga dzikir ini sering hadir dalam berbagai tuntunan Nabi SAW, termasuk dzikir setelah shalat. Tasbih membersihkan cara pandang: Allah Mahasuci dari prasangka buruk kita, termasuk prasangka “Allah tidak akan mencukupkan”. Tahmid menumbuhkan rasa cukup dan syukur, yang justru menjadi magnet keberkahan—karena Allah menjanjikan penambahan nikmat bagi yang bersyukur (makna QS. Ibrahim: 7). Takbir mengembalikan rasa “besar” hanya kepada Allah, bukan pada masalah dan kebutuhan.
Banyak orang kehilangan berkah karena hidup dalam keluhan konstan. Bukan berarti kita dilarang mengeluh secara manusiawi, tetapi keluhan yang berlarut-larut membuat hati sempit. Dzikir ini meluaskan dada: kita melihat nikmat yang sudah ada, lalu lebih kuat menjemput nikmat yang akan datang.
Cara mengamalkan:
-
Biasakan dzikir setelah shalat fardhu (yang masyhur: 33 tasbih, 33 tahmid, 34 takbir).
-
Ucapkan dengan pelan namun jelas, sambil memahami maknanya.
4) Hasbunallah: “Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl”
Artinya: “Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Dia sebaik-baik pelindung.” Dzikir ini kuat untuk masa-masa sulit: ketika usaha sudah maksimal tetapi hasil belum terlihat, saat dizalimi, saat proyek seret, atau ketika takut kehilangan. Dalam Al-Qur’an (makna QS. Ali ‘Imran: 173), kalimat ini diucapkan oleh orang beriman ketika menghadapi ancaman; justru kalimat itu menambah iman dan menenangkan hati.
Dalam konteks rezeki, “Hasbunallah” membantu seseorang tidak panik. Kepanikan sering mendorong keputusan buruk: mengambil yang haram, berutang tanpa perhitungan, atau menipu. Dengan dzikir ini, kita tetap bergerak, tetapi hati tidak remuk.
Cara mengamalkan:
-
Ucapkan saat cemas soal penghasilan, tagihan, atau kebutuhan keluarga.
-
Lanjutkan dengan ikhtiar yang rapi: evaluasi pengeluaran, cari peluang halal, perbaiki kualitas kerja.
5) Dzikir perlindungan dari kefakiran dan utang (doa Nabi)
Rasulullah SAW mengajarkan doa perlindungan dari himpitan utang dan kesusahan. Salah satu doa yang masyhur:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
“Allāhumma innī a‘ūdzu bika minal-hammi wal-hazan, wal-‘ajzi wal-kasal, wal-bukhli wal-jubn, wa dlala‘id-dayni wa ghalabatir-rijāl.”
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat kikir dan pengecut, serta dari beratnya lilitan utang dan tekanan/kezaliman orang-orang (atas diriku).”
Maknanya memohon perlindungan dari gelisah dan sedih, lemah dan malas, kikir dan pengecut, beratnya utang dan tekanan manusia. Ini bukan sekadar bacaan, tetapi peta masalah rezeki: banyak kesulitan finansial muncul dari malas, tidak disiplin, takut mengambil langkah benar, atau kebiasaan boros dan kikir yang sama-sama merusak.
Cara mengamalkan:
-
Baca pagi dan sore, atau setelah shalat.
-
Jadikan doa ini “alarm” untuk memperbaiki akhlak kerja: lebih disiplin, lebih berani jujur, lebih produktif.
6) Doa meminta rezeki halal yang baik
Nabi SAW mengajarkan umatnya untuk meminta rezeki yang halal, baik, dan penuh berkah. Salah satu doa yang terkenal adalah:
“Allāhumma innī as’aluka ‘ilman nāfi‘an, wa rizqan ṭayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.”
Doa ini sering dibaca di waktu pagi. Perhatikan susunannya: ilmu bermanfaat, rezeki yang baik, lalu amal yang diterima. Ini mengajarkan bahwa rezeki bukan berdiri sendiri; ia terkait kompetensi (ilmu), kualitas sumber (halal dan thayyib), dan tujuan hidup (amal). Rezeki yang “banyak” tapi merusak ibadah dan akhlak bukan kemenangan, melainkan ujian berat.
Cara mengamalkan:
-
Baca setelah shalat Subuh atau di pagi hari sebelum mulai aktivitas.
-
Sertai dengan langkah nyata: belajar skill, memperluas jaringan halal, dan menjaga integritas.
7) Shalawat kepada Nabi: “Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad”
Shalawat adalah dzikir agung yang mendatangkan rahmat. Banyak ulama menekankan shalawat sebagai sebab kelapangan urusan, termasuk urusan rezeki, karena shalawat termasuk bentuk ibadah yang dicintai Allah. Secara spiritual, shalawat melembutkan hati, menambah cinta kepada Rasul, dan memotivasi meneladani akhlak beliau—sementara akhlak Nabi dalam muamalah (jujur, amanah, tidak menipu, tidak zalim) adalah kunci terbesar keberkahan rezeki.
Di sisi lain, orang yang rutin bershalawat biasanya lebih stabil emosinya. Kestabilan ini penting dalam bekerja dan berniaga: tidak mudah meledak, tidak impulsif, dan lebih sabar dalam proses.
Cara mengamalkan:
-
Perbanyak shalawat kapan saja: di perjalanan, sebelum rapat, sebelum jualan, sebelum membuat keputusan.
-
Target realistis, misalnya 100 kali sehari, lalu naik bertahap.
Adab penting agar dzikir benar-benar “membuka rezeki”
Dzikir bukan pengganti usaha, melainkan penguat dan penuntun usaha. Jika seseorang berdzikir tetapi tetap mengambil yang haram, menunda shalat, menipu timbangan, atau memutus silaturahim, maka ia sedang menutup pintu berkah dengan tangannya sendiri.
Agar amalan di atas lebih terasa dampaknya, pegang beberapa adab ini:
-
Niatkan dzikir untuk mencari ridha Allah, bukan semata angka dan hasil cepat.
-
Jaga yang wajib: shalat tepat waktu, zakat bila sudah wajib, amanah dalam kerja.
-
Perbanyak sedekah meski kecil, karena sedekah melatih lepas dari ketakutan miskin.
-
Perbaiki hubungan: silaturahim, minta maaf, lunasi hak orang bila ada.
-
Minta rezeki yang halal dan berkah, bukan sekadar banyak.
Ketika dzikir menjadi napas harian, ia mengubah cara kita memandang hidup: dari “aku harus mengendalikan semua” menjadi “aku berusaha, Allah yang menentukan.” Dari situ, biasanya rezeki datang dalam bentuk yang lebih luas: peluang yang pas, hati yang tenang, ide yang jernih, serta keberkahan yang membuat sedikit terasa cukup dan banyak terasa bermanfaat.


